Minggu, 20 Juli 2014

PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN WILAYAH BERBASIS KOMODITAS LOKAL

PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN WILAYAH BERBASIS KOMODITAS LOKAL
Nadhia Maharany Siara 
PENDAHULUAN
            Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan potensi sektor pertanian yang besar. Namun sampai saat ini sektor pertanian yang berada di kawasan pedesaan tidak mampu memberikan kontribusi yang besar pada pembangunan ekonomi bangsa maupun perekonomian para petani sebagai pelaku usaha terbesar sektor ini. Kawasan pedesaan kian tertinggal dan minim akan sarana dan prasarana menyebabkan orang-orang yang berdomisili di pedesaaan ingin menaikan taraf hidup mereka dengan berpindah ke kawasan perkotaan.
            Perpindahan orang-orang ini menyebabkan tingginya arus urbanisasi sehingga membuat  wilayah perkotaan yang padat akan penduduk menjadi semakin padat. Padatnya penduduk di kawasan perkotaan berdampak pada ketersediaan lapangan kerja sehingga perrpindahan mereka ke kota bukan merupakan tindakan yang tepat untuk meningkatkan taraf hidup mereka.  
            Solusi tentu saja dibutuhakan untuk mengatasi permasalahan yang rumit ini. Pengembangan kawasan agropolitan merupakan alternatif pembangunan kawasan pedesaan guna menekan derasnya arus urbanisasi. Dengan konsep agropolitan yang menata desa menjadi suatu pusat kegiatan ekonomi berbasis pertanian dengan mempererat keterkaitan sistem agribisnis yang didudkung dengan pembangunan fasilitas penunjangnya, diharapkan mampu menciptakan suatu “desa kota” yang memberikan kontribusi terhadap pencaharian dan kesejahteraan masyarakat.
            Rumusan masalah pada karya tulis ini adalah: 1. Bagaimana pengembangan kawasan agropolitan? 2. Apa strategi yang tepat guna mengembangkan wilayah pedesaan? 

PEMBAHASAN
Pengertian Agropolitan dan Kawasan Agropolitan
            Agropolitan berasal dari dua kata, yaitu Agro yang berarti pertanian dan Politan yang berarti kota, sehingga pengertian Agropolitan adalah kota pertanian yang tumbuh dan berkembang, mampu melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya (Daidullah, 2006 Hal 1).
            Kawasan adalah wilayah yang berbasis pada keberagaman fisik dan  ekonomi, tetapi memiliki hubungan erat dan saling mendukung satu sama lain  secara fungsional demi mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan dan  meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dalam kaitan ini, kawasan didefinisikan sebagai wilayah yang mempunyai fungsi tertentu, dengan kegiatan ekonomi,  sektor dan produk unggulannya mempunyai potensi mendorong pertumbuhan  ekonomi wilayah sekitarnya. Kawasan ini baik secara sendiri-sendiri maupun  secara bersama membentuk suatu klaster. Klaster dapat berupa klaster pertanian  dan klaster industri, bergantung pada kegiatan ekonomi yang dominan dalam kawasan itu (Bappenas, 2004)
            Menurut Undang-Undang tentang Penataan Ruang Bab I Pasal 1  dan ayat 24, Kawasan agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agrobisnis. Kawasan agropolitan (kota pertanian) tidak ditentukan oleh batasan administrasi  pemerintah, tetapi lebih ditentukan oleh economic of scale dan economic of scope.  Untuk itu penetapan kawasan agropolitan dirancang secara lokal dengan  memperhatikan realitas perkembangan agrobisnis yang ada di setiap kawasan. Pada  akhirnya tujuan utama yang ingin diraih dari kebijakan pengembangan kawasan  agropolitan yaitu sebagai salah satu alternatif konsep pembangunan kawasan  yang mampu mendorong perekonomian kawasan, menciptakan sinergitas
pembangunan antar wilayah yang lebih berimbang, mampu mengatasi  permasalahan pembangunan wilayah perdesaan serta meningkatkan pengelolaan  pertanian berkelanjutan (Bappeda Provinsi Jatim, 2011).
            Suatu kawasan agropolitan memiliki ciri yaitu sebagian besar kegiatan  masyarakat di kawasan tersebut didominasi oleh kegiatan pertanian atau  agribisnis dalam suatu kesisteman yang utuh dan terintegrasi. Berbeda dari  kawasan perdesaan umum, kawasan agropolitan adalah kawasan perdesaan yang memiliki produktivitas tinggi dengan komoditi unggulan dan berdaya saing, mulai berkembang dengan sistem usaha agribisnis dengan aneka produk segar dan olahan berkualitas dan telah memiliki pasar regional/nasional/global (Departemen  Pekerjaan Umum, 2007 dalam Hapsari, 2008).
            Rencana kawasan agropolitan adalah salah satu upaya mempercepat pembangunan perdesaan dan pertanian, dimana kota sebagai pusat kawasan dengan ketersediaan sumber dayanya, tumbuh dan berkembang mengakses, melayani, mendorong dan menarik usaha agribisnis di desa-desa kawasan dan desa-desa sekitarnya (hinterland).
Gambar 1 Kawasan Agropolitan
Sumber: Dinas Sumber Daya Air dan Permukiman Provinsi Banten, 2013
Pengembangan Kawasan Agropolitan
            Pengembangan agropolitan adalah suatu pendekatan pembangunan kawasan  perdesaan melalui upaya-upaya penataan ruang kawasan perdesaan dan  menumbuhkan pusat-pusat pelayanan fasilitas perkotaan (urban function center)  yang dapat berupa atau mengarah pada terbentuknya kota-kota kecil berbasis  pertanian (agropolis) sebagai bagian dari sistem perkotaan dengan maksud
meningkatkan pendapatan kawasan perdesaan (regional income), menghindari  kebocoran pendapatan kawasan perdesaan (regional leakages), menciptakan  pembangunan yang berimbang (regional balance) dan keterkaitan desa-kota  (urban rural linkages) yang sinergis dengan pembangunan kawasan. Dengan  demikian, diharapkan kawasan perdesaan dengan hasil pertanian dan perkebunannya dapat mengatasi krisis kemiskinan di kalangan petani.
            Secara konseptual pengembangan  agropolitan merupakan sebuah pendekatan pengembangan suatu kawasan  pertanian perdesaan yang mampu memberikan berbagai pelayanan untuk  memenuhi kebutuhan masyarakat di kawasan produksi pertanian di sekitarnya,  baik pelayanan yang berhubungan dengan sarana produksi, jasa distribusi,  maupun pelayanan sosial ekonomi lainnya sehingga masyarakat setempat tidak  harus menuju kota untuk mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan (Rustiadi, dkk, 2007 dalam Hapsari, 2008)
            Sampai dengan tahun 2008, total pengembangan kawasan agropolitan  sudah mencakup 94 kabupaten di 32 provinsi di Indonesia. Dari jumlah total  tersebut 11 kabupaten merupakan wilayah pengembangan baru pada tahun 2007, dan 48 di antaranya merupakan wilayah pengembangan baru pada tahun 2008 (Satuan Kerja Penyediaan Prasarana dan Sarana Agropolitan, Departemen
Pekerjaan Umum 2008 dalam Hapsari, 2008).
            Konsep kawasan agropolitan sebagai pusat pertumbuhan wilayah baru mulai dikembangkan semenjak tahun 1975 oleh Friedmann, yang penting dalam konsep ini adalah prinsip mandiri dan berdikari kerjasama dan gotong-royong dalam masyarakat adalah kunci suksesnya pendekatan agropolitan (Hutagalung, 2004). Konsep agropolitan berprinsip desentralisasi dan mengikutsertakan sebagian besar penduduk wilayah, yaitu penduduk pedesaan yang bertani dalam pembangunan.           Konsep tersebut dibuat untuk mengembangkan wilayah perdesaan menjadi pusat pertumbuhan wilayah baru yang berbasis pada kegiatan agribisnis. (BAPPENAS, 2003). Dalam konsep ini, perdesaan yang tadinya tertutup, diusahakan supaya lebih terbuka sehingga dapat menjadi pusat pertumbuhan wilayah baru, misalnya dengan menyebarkan berbagai industri kecil di wilayah pedesaan yang berbasis agribisnis, penduduk pedesaan dapat meningkatkan pendapatannya serta mendapatkan prasarana sosial ekonomi dalam jangkauannya dan dengan demikian perpindahan penduduk ke kota dapat dikendalikan (Basri dan Arifin, 2010)
            Dalam pengembangan Kawasan Agropolitan terdapat 3 hal penting yang menjadi syarat agar konsep pengembangan Kawasan Agropolitan dapat diwujudkan:
1.    Investasi dalam Bidang Agro Industri
      Kawasan yang disebut sebagai kawasan agropolitan yang berbasis komoditas unggulan adalah suatu kawasan yang bertumpu dari hasil pertanian dan memiliki komoditas unggulan. Kawasan tersebut tidak saja menjadi pemasok dari komoditas unggulan yang dihasilkan, tetapi juga menghasilkan suatu produk olahan dari produksi pertanian yang siap dipasarkan dan menjadi ciri khas kawasannya.  Contohnya Propinsi Gorontalo dengan produk unggulan pertaniannya yakni jagung, yang saat ini merupakan kota penghasil jagung yang cukup popular di Indonesia, bahkan telah di ekspor ke luar negeri.  Perkembangan ekspor jagung di Gorontalo mengalami perkembangan yang sangat menggembirakan. Pada tahun 2001 dilakukan ekspor sebanyak 6.300 ton, kemudian pada tahun 2010 melonjak menjadi 32.187 ton (Herawan, 2013). Kawasan ini  telah dilengkapi sarana pelabuhan peti kemas, untuk memudahkan pengiriman produk unggulannya bahkan telah tersedia silo penyimpanan jagung yang terletak di sekitar pelabuhan. Menurut hasil penelitian Herawan (2013), akar dari kesuksesan Gorontalo adalah keberhasilan dalam menerapkan kebijakan agropolitan yang mengkombinasikan sinergi antara pemerintah kawasan, swasta di kawasan, serta masyarakat dalam menerapkan kebijakan agroplitan berbasis jagung sebagai komoditi unggulan. Kebijakan agropolitan berbasis jagung ini mampu membuat pembangunan di Provinsi Gorontalo berlangsung dengan lancar serta roda perekonomian terus berputar. Berbagai inovasi pemerintah di bidang pelayanan, serta regulasi menjadi faktor pendukung. Selain itu peran swasta dan masyarakat pun sangat tinggi sehingga mampu mendukung kebijakan agropolitan di Provinsi Gorontalo. Berbagai program dan strategi yang dilakukan oleh pemerintah kawasan yang mengacu pada kebijakan agropolitan berbasis jagung sebagai komoditi unggulan terbukti mampu menyejahterakan rakyat Gorontalo.
2.    Promosi Produk Unggulan
      Promosi produk unggulan dari suatu kawasan akan menentukan keberhasilan pengembangan kawasan agropolitan yang bersangkutan. Hal ini disebabkan  produk tersebut akan merupakan salah satu bentuk promosi bagi kawasan itu baik untuk cakupan  nasional maupun internasional.  Contohnya kota Gorontalo pernah menyelenggarakan konferensi internasional tentang jagung, sehingga otomatis pihak luar negeri telah mengetahui bahwa kota Gorontalo merupakan penghasil jagung.
3.    Pengelolaan Agrikultura dan Industri yang Berkesinambungan
      Pengelolaan agrikultura dan industri yang berkesinambungan akan menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat petani. Ini salah satu contoh yang perlu dikemukakan dan sekaligus dapat dijadikan perhatian bersama yaitu pengelolaan agrikultura dan industri yang berkesinambungan akan lebih menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat petani.
Program Pengembangan Kawasan Agropolitan sebagai salah satu program  yang akan mendorong percepatan pembangunan pada kawasan-kawasan pertanian  sehingga diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi di kawasan dan wilayah sekitarnya. Pertumbuhan ekonomi kawasan agropolitan tidak terbatas  pada sektor pertanian saja, tetapi juga kegiatan-kegiatan penunjang lainnya yang  terkait dengan pertanian seperti industri kecil, jasa pelayanan, perdagangan, budi  daya, konservasi (kawasan lindung), dan pariwisata (Departemen Pekerjaan Umum, 2007)
Strategi Pengembangan Kawasan Agropolitan
            Dapat dianalisis melalui analisis SWOT untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki oleh kawasan atau wilayah tersebut.  Berdasarkan hal itu dapat didorong kekuatan dan peluang yang dimiliki dan dieliminir kelemahan dan ancaman yang dimiliki. Hal hal yang perlu diperhatikan untuk pengembagan kawasan agropolitan menurut Basri dan Arifin, 2010) dalam upaya mendukung pengembangan berbasis komoditas local antara lain:
1.  Peran dalam konteks regional yang meliputi letak atau kedudukan geografis dalam konteks regional serta keunggulan komoditi yang dimilikinya. Posisi ini memungkinkan komoditi unggulan dari kawasan agropolitan ini untuk dipasarkan antar pulau atau ekspor
2.  Peran dalam konteks lokal yang meliputi kedudukan dan interkoneksinya dengan wilayah hinterlandnya, misalnya  berdekatan dengan ibukota propinsi, dan wilayah maju dan terbuka serta kawasan internal di sekitarnya
3.  Pengembang wilayah kawasan agropolitan dengan mempertimbangkan RTRW, arahan fungsi lahan/kawasan, struktrur tata ruang kawasan agropolitan, hirarki pengembangan  serta komoditas unggulan kawasan
PENUTUP
            Kawasan pedesaan dapat dikembangkan dengan menjadikannya pusat pertumbunhan wilayah baru yang berfokus pada sektor pertanian melalui konsep agropolitan. Penduduk pedesaan dapat menjadi terberdaya dengan adanya sarana prasarana yang lengkap dan tingkat ekonomi di atas rata-rata. Terdapat strategi yang tepat guna mengembangan wilayah pedesaan menjadi kawasan agropolitan yang berbasis komoditas lokal itu yaitu dengan adanya peran dalam konteks regional dan lokal juga pengembangan wiayah kawasan agropolitan.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2004. Tata cara Perencanaan Pengembangan Kawasan           Untuk Percepatan Pembangunan Kawasan. Direktorat Pengembangan Kawasan Khusus dan                   Tertinggal.Jakarta: Bappenas. http://pu.net
Bappeda Provinsi Jawa Timur, 2011. Pedoman Umum Pengembangan Kawasan  Agropolitan Provinsi       Jawa Timur Tahun 2011. 43p.
Bappenas. 2003. Peta Kemampuan Keuangan Provinsi Dalam Era Otonomi Kawasan: tinjauan Alas       Kinerja PAD dan Upaya Yang Dilakukan Kawasan. Direktorat Pengembangan Otonomi
Basri, I.S dan R. Arifin.  Kawasan Agropolitan Kabupaten Donggala Dalam Konteks Pengembangan                 Wilayah dan Sebagai Pusat Pertumbuhan Wilayah Baru.   Majalah Ilmiah Mektek. Tahun XII No.1 Januari  2010.
Daidullah, Samsudin T. 2006. Strategi Pengembangan Agropolitan Dinas Tanaman Pangan Hortikula,                 Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Buol. Yogyakarta. Thesis: Program Studi Magister                         Manajemen Agribisnis Sekolah Pascasarjana Universitas Gajahmada, Yogyakarta.
Dinas Sumber Daya Air dan Permukiman Provinsi Banten. 2013. Kawasan Agropolitan.             http://dsdap.bantenprov.go.id/upload/articles/GBR/Gambar%20Kawasn%20Agropolitan.jpg. (12Maret               2013).
Hapsari, Betri Andita Eky, 2008.  Perencanaan Lanskap bagi Pengembangan Agrowisata di Kawasan               Agropolitan Merapi-Merbabu Kabupaten Magelang. Skripsi. Program Studi Arsitektur Lanskap                 Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Herawan, 2013. Implementasi Agropolitan Berbasis Sumber Daya Lokal Untuk Meningkatkan                               Pembangunan Ekonomi (Studi Provinsi Gorontalo). Skripsi. Jurusan Ilmu Ekonomi  Fakultas Ekonomi Dan       Bisnis  Universitas Brawijaya, Malang. 
Hutagalung, T.M. 2004. Agropolitan Merupakan Alternatif Pembangunan  Perdesaan Berkelanjutan.             Makalah. 31 Mei 2004. Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor.
Republik Indonesia.2007. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang                     Penataan Ruang


Tulisan ini disusun guna memenuhi Tugas  Mata Kuliah Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota - Semester 1 - PWK FT UB





Tidak ada komentar:

Posting Komentar