Minggu, 20 Juli 2014

Resume Teori Von Thunen

Johan Heinrich Von Thunen (1783-1850) adalah ahli ekonomi pertanian yang membuat teori tentang lokasi pertanian. Von Thunen mengembangkan teoriini berdasarkan hasil pengamatan di daerah tempat tinggalnya. Inti dari teori ini adalah pola keruangan pertanian yaitu jarak lokasi pertanian ke pasar dan sifat produk pertanian (keawetan, harga dan beban angkut).

            Pada zaman tersebut terdapat banyak lokasi pertanian yang terletak di wilayah yang kurang strategis. Petani berada di lokasi yang jauh dari pusat pasar atau kota sehingga harus menempuh jarak yang cukup jauh saat menjual hasil panennya padahal alat transportasi yang digunakan untuk mengangkut hasil pertanian pada zaman itu masih berupa gerobak yang ditarik oleh sapi, kuda atau keledai. Biaya transportasi yang dibutuhkan tidak berbanding lurus dengan upah yang diberikan. Maka dari hasil studi inilah Von Thunen mengeluarkan teori lokasi pertanian.
            Inti dari teori Von Thunen adalah bahwa harga sewa lahan pertanian akan berbeda-beda nilainya tergantung pada tata guna lahannya. Lahan yang berada dekat pusat pasar atau kota akan berharga lebih tinggi dibandingkan lahan yang berada jauh dari pusat pasar atau kota karena jarak yang makin jauh dari pusat pasar atau kota akan meningkatkan biaya transportasi.
            Pada perkembangannya teori ini tidak hanya berlaku untuk komoditas pertanian namun juga berlaku pada  komoditas lainnya. Model Von Thunen mengenai tanah pertanian ini dibuat sebelum era industrilisasi. Dalam teori ini terdapat 7 asusmsi yang digunakan oleh Von Thunen dalam pengujiannya.
1.      Terdapat suatu daerah terpencil yang terdiri atas daerah perkotaan dengan daerah pedalamannya dan merupakan satu-satunya daerah pemasok kebutuhan pokok yang merupakan komoditi pertanian – isolated stated
2.      Daerah perkotaan tersebut merupakan daerah penjualan kelebihan produksi daerah pedalam dan tidak menjual kelebihan produksinya ke daerah lain kecuali ke daerah perkotaan – single market
3.      Daerah pedalaman tidak menjual kelebihan produksinya ke daerah lain kecuali ke daerah perkotaan – single destination
4.      Daerah pedalaman merupakan daerah berciri sama (homogenous) dan cocok untuk tanaman dan peternakan
5.      Daerah pedalaman dihuni oleh petani yang berusaha untuk memperoleh keuntungan maksimum dan mampu untuk menyesuaikan hasil tanaman dan peternakannya dengan permintaan yang terdapat di daerah perkotaan – maximum oriented
6.      Satu-satunya angkutan yang terdapat pada waktu itu adalah angkutan darat– one moda transportation
7.      Biaya angkutan ditanggung oleh petani dan besarnya sebanding dengan jarak yang ditempuh. Petani mengangkut semua hasil dalam bentuk segar – equidistant
Dengan asumsi tersebut maka daerah lokasi berbagai jenis pertanian akan berkembang dalam bentuk lingkaran tidak beraturan yang mengelilingi daerah pertanian.

Description: http://1.bp.blogspot.com/-WL5SrxMKWRA/UWY7PSsqV5I/AAAAAAAACDE/_5jvvnePi8A/s400/vonthunen.gif
Gambar tersebut terbagi 2, yang pertama mencirikan isolated area yang memperlihatkan daerah yang teratur, sedangkan gambar yang kedua mencirikan adanya moda transportasi sungai. Semua petani akan memaksimalkan produktivitas lahannya dengan mengikuti permintaan pasar.
            Model Teori Lokasi Pertanian Von Thunen membandingkan hubungan antara biaya produksi, harga pasar dan biaya transportasi. Kewajiban petani adalah memaksimalkan keuntungan yang didapat dari harga pasar dikurang biaya transportasi dan produksi. Aktivitasi yang paling produktif seperti berkebun dan produksi susu sapi atau aktivitas yang memiliki biaya transportasi tinggi seperti kayu bakar, lokasinya dekat dengan pasar.
Dalam teori Von Thunen ini terdapat beberapa asumsi yang sudah tidak relevan lagi, diantaranya adalah:
1.      Jumlah Pasar
Di Indonesia pada umumnya tidak hanya terdapat satu market center, tetapi dua atau lebih pusat dimana petani dapat menjual komoditinya.


2.      Topografis
Kondisi topografi dan kesuburan tanah tidak selalu sama, pada dasarnya kondisi ini selalu berbeda untuk tiap-tiap wilayah pertanian. Jadi untuk hasil pertanian yang akan diperoleh juga akan berbeda pula.
3.      Biaya Transportasi
Keseragaman biaya transportasi ke segala arah dari pusat kota yang sudah tidak relevan lagi, karena tergantung dengan jarak pemasaran dan bahan baku, dengan kata lain tergantung dengan biaya transportasi itu sendiri (baik transportasi bahan baku dan distribusi barang).
4.      Petani tidak semata-mata profit maximization
Petani yang berdiam dekat dengan daerah perkotaan mempunyai alternatif komoditas pertanian yang lebih banyak untuk diusahakan. Sedangkan petani yang jauh dari perkotaan mempunyai pilihan lebih terbatas.
Teori Von Thunen ini dapat digunakan sebagai dasar pendekatan pengembangan wilayah kawasan perbatasan, khususnya melalui pengembangan transportasi. Wilayah kawasan perbatasan di Indonesia umumnya merupakan wilayah yang memiliki jarak paling jauh dari pusat kota dan berfungsi sebagai penyedia bahan baku. Berdasarkan teori ini, kegiatan ekonomi/produksi yang paling cocok untuk wilayah ini adalah kegiatan ekonomi/produksi komoditas yang paling efisien (dihitung menurut besaran biaya produksi dan biaya transportasi) jika berada di dekat penyedia bahan baku dan jauh dari pasar atau pusat kota. Contohnya seperti kegiatan produksi komoditas ekstraktif (barang tambang) dan peternakan. Pengembangan transportasi untuk mendukung kegiatan ekonomi/produksi ini adalah dengan membangun infrastruktur transportasi yang menghubungkan antara penyedia bahan baku dengan pasar atau pusat kota.

Referensi


 Tulisan ini disusun guna memenuhi Tugas Mata Kuliah Analisis Lokasi Pola Ruang - Semester 2 - PWK FT UB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar